Experiencing Hotel Interiority

Kebutuhan manusia akan tempat untuk berlindung / tinggal sementara ketika sedang dalam perjalanan menjadi salah satu alasan hadirnya hotel di tengah-tengah kehidupan kita. Manusia sebagai pengguna adalah tamu yang harus membayar untuk dapat tinggal di hotel. Seiring perkembangan zaman, kebutuhan manusia kerap meningkat, terutama bagi masyarakat urban yang memiliki kesibukan dan bekerja di hiruk pikuk kota. Mereka membutuhkan rehat dari penat sehingga liburan menjadi salah satu jawabannya dan menjadikan hotel sebagai pemenuh kebutuhan untuk tinggal saat sedang berlibur. Atau bahkan menjadikan hotel itu sendiri sebagai destinasi sebuah perjalanan.

Peningkatan jumlah penduduk, dan kemajuan teknologi menjadikan industri hotel dan resort pun terus berkembang dan bertambah di Indonesia. Semakin banyak hotel yang berlomba-lomba dengan menawarkan spatial experience sebagai daya tarik utamanya, dan tidak lagi hanya sebatas menawarkan fungsionalitas semata. Hal tersebut menjadikan persaingan bisnis di bidang hospitality semakin sengit. Hal ini dikarenakan salah satu parameter keberhasilan sebuah hotel adalah bagaimana hotel tersebut mampu menarik minat tamu untuk kembali dan memberikan pengalaman yang berkesan. Sehingga, banyak hotel-hotel yang hadir dengan tampilan sangat menawan, terutama di bagian dalam ruangnya.

Arsitektur, ilmu yang mempelajari hubungan ruang dan manusia menjadi aspek yang penting dalam perhotelan.

Hotel owners seek architects and interior designers to create new and interesting experience for shopisticated traveller”.[1. Richard H Penner, Hotel Design : Planning and Development, ( New York: 2001)]

Para owner telah sadar bahwa dengan berinvestasi di bidang desain arsitektur, bisnis mereka akan lebih menarik di pasar yang bersaing. Sehingga desain pada hotel menjadi prioritas nomor satu dalam menghadirkan pengalaman yang terbaik bagi pengunjung.

“The theatre of human life is sensed. Hotels have long embodied an architecture of theatrically defining a place for the drama of human activity and experience.” [2. Penner (2001)]

(Atas ke bawah) Kemegahan lobi hotel Fullerton Bay Singapura dan salah satu restoran dengan dudukan di tengah lake oasis, Mulia Resort Bali (Sumber: dokumentasi pribadi)

Sekarang  hotel bukan lagi sesederhana tempat tinggal sementara, tapi lebih dari itu hotel menjadi sebuah tempat merayakan, memenuhi kebutuhan fisik dan mental yang dapat membuat para tamu berkesan.

Aktivitas dan pengalaman para tamu hotel terjadi dalam ruang yang bercerita dan menghadirkan suasana lebih dari sekedar fungsi dan keindahan, tetapi juga mempengaruhi perception dan experience para tamu. [3. Bryan Lawson, The Language of Space ( Oxford : Architectural Press, 2011 )] Sehingga, dalam desain sebuah hotel, hubungan antar manusia dan ruang menjadi sangat penting. Melalui  interiornya, skala dan keintiman benar-benar berhubungan dengan tubuh, sehingga interior hotel juga harus terhubung dengan jiwa dan pikiran manusia. Unsur interior yang berupa atap, lantai, tembok dan dekorasi, secara bersamaan membentuk ambience yang mampu memberi sensasi kepada manusia. Sensasi tersebut dapat menghasilkan experience yang sangat berkesan hingga menjadi sumber inspirasi bagi seseorang dalam menghasilkan karya baru.

Salah satu cuplikan ikonik dari film Lost in Translation, yang berlatar di Park Hyatt Tokyo (Sumber: Lost in Translation, hak cipta Focus Features)

Seperti Sofia Coppola yang menghasilkan sebuah cerita fiktif dan diadaptasi menjadi film peraih penghargaan Academy Award, Lost in Translation. Cerita tersebut berangkat dari pengalamanya yang sangat berkesan di Park Hyatt Hotel, Tokyo. Ia menyebutnya sebagai “my favorite place in the world”.[4. “Sofia Coppola Talks About “Lost In Translation,” Her Love Story That’s Not “Nerdy” | Filmmakers, Film Industry, Film Festivals, Awards & Movie Reviews”. Indiewire. 2011-11-08.] Kemudian pengalaman seorang Coco Chanel di sebuah hotel di Salzburg, Austria, yang memberi inspirasi karya busananya.[5. Wawancara Karl Lagerfeld dalam Chanel Metiers d’Art Collection Desember 2014 (www.chanel.com)]

Lebih dari sekedar tempat tinggal sementara, hotel menjadi sebuah ruang manusia beraktivitas. Melalui desain ruangnya dapat menghadirkan memori yang membekas. Bukan hanya datang check-in, tidur atau istirahat, tetapi lebih dari itu. Hotel sebagai bentuk selebrasi terhadap ruang, membuat para tamu terkesima dengan pengalaman ruang yang membekas di memori setiap individu. Perjalanan dari datang check-in, masuk ke kamar, hingga check-out merupakan sebuah journey of experience dalam mengalami interioritas[6. suatu kualitas ruang yang dimiliki oleh interior sebuah bangunan yang dapat dialami langsung oleh manusia melaui panca  indera yang dimiliki] yang berperan besar dalam meninggalkan kesan. Sehingga membuat para tamu terus kembali atau bahkan lebih dari itu, menghasilkan sebuah karya hebat yang influential dan mendunia.

Marandra Ghifari

Marandra Ghifari is currently majoring Architecture in University of Indonesia on his fourth year. He was an intern at Indonesia’s mega project Soekarno-Hatta International Airport T3 Ultimate. He also has worked for newly developed Jakarta-based architecture firm, Alvasara, appointed architectural research for airport design and as for now he is currently working for Klaasen Lighting Design , Singapore-based lighting consultant as junior lighting designer intern. Several residential interior projects are also being built from his freelance projects, specializing in high-end luxury design.

More Posts