Antara Desain Arsitektur Minimalis dan Meni Males

Meskipun “minimalis” adalah kata yang sudah cukup mandiri menjelaskan arti dirinya, banyak orang masih bertanya-tanya tentang kriteria desain (rumah) minimalis. Artikel ini akan membantu Anda memahami sebelum memutuskan untuk membeli atau membangun bangunan dengan langgam/gaya desain yang satu ini.

Foto di atas adalah screenshot hasil pencarian gambar di Google dengan kata kunci “rumah minimalis 2016” dan “minimalist architecture.” Perbedaan tampilan desain dari kedua hasil pencarian tersebut memperlihatkan adanya perbedaan pemahaman antara arsitektur minimalis di Indonesia dan di dunia.

Menengok ke sejarah arsitektur dunia, konsep desain minimalis berkembang di era modernisme. Slogan-slogan terkenal yang mewakili ide ini adalah “ornament is crime!” (oleh Arsitek Austria-Cekoslovakia, Adolf Loos pada tahun 1910) dan “less is more!” (oleh arsitek Jerman, Mies van Der Rohe pada tahun 1947).

Slogan pertama muncul dengan didorong oleh pemikiran bahwa elemen dekorasi dari suatu gaya arsitektur akan membuat gaya tersebut ketinggalan zaman. Oleh karena itu membuat dekorasi adalah sebuah kesia-siaan (“tindakan kriminal”).

Ada dua catatan kaki untuk poin ini. Pertama, paham Barat ini sering dianggap senada dengan ideologi Jepang tentang Wabi-Sabi yang mencari keindahan melalui kealamian dan kesederhanaan. Ornamen/hiasan dinilai dapat mengganggu manusia dalam mengapresiasi hal-hal yang penting. Misalnya, dengan tidak adanya ornamen, penghuni sebuah bangunan dapat berkontemplasi tentang hal-hal yang bukan hanya material, namun juga imaterial seperti cahaya matahari, suhu udara, wangi ruangan, dll. Kedua, konsep minimalis ini juga dapat terlihat pada kultur kuliner kedua budaya di atas, yaitu yang bukan mengutamakan bumbu, melainkan rasa dari bahan makanan itu sendiri (daging, daun, dsb.)

Berikutnya, slogan kedua muncul setelah perang dunia berakhir. Semangat untuk bangkit seusai perang, adanya kebutuhan untuk membangun kembali kota-kota di Eropa dan Amerika dengan cepat dan murah, serta majunya teknologi material industri (seperti besi dan kaca) mendorong pembangunan untuk mengutamakan efisiensi. Kebaikan sebuah bangunan dinilai dari hal utama yang paling (secara terukur) dibutuhkan manusia, yaitu fungsi. Lebih dari itu, bangunan dinilai tidak efisien.

Meskipun pada praktiknya, arsitektur di dunia menggunakan kedua pemahaman akan langgam ini secara tumpang tindih, pada prinsipnya keduanya berpegang pada kesederhanaan.

Dalam konteks Indonesia sendiri, langgam ini muncul tidak secara natural sebagaimana yang terjadi di dunia. Langgam minimalis yang memiliki nama lain “international style”, dengan didukung oleh keadaan Indonesia yang sedang bercita-cita menjadi negara global, mengundang banyak pengembang (developer) mengadopsi kata tersebut untuk mempopulerkan produknya. Sayangnya, hal ini tidak didukung oleh pemahaman historis yang cukup. Hasilnya, banyak bentuk/citra visual bangunan yang justru tidak muncul dari akar pemikiran kata ini.

Sesungguhnya kritik akan melesetnya penerjemahan langgam ini ke praktik arsitektur di Indonesia sudah sering diangkat ke permukaan oleh para arsitek di akhir tahun 1990-an. Para mahasiswa yang saat itu baru pulang dari studi tingkat lanjut serta para arsitek yang baru selesai melakukan ekskursi dari luar negeri, mengritik pengartian langgam ini di Indonesia sebagai praktik arsitektur yang sangat malas (bahasa Sunda: “meni males”) untuk belajar.

Namun demikian, imaji “rumah minimalis” sebagaimana yang ditampilkan pencarian Google di atas memperlihatkan bagaimana hingga saat ini pemahaman masyarakat Indonesia akan langgam tersebut memang sudah berubah secara natural menjadi seragam. Pada akhirnya pilihannya ada pada kita sendiri, para pelaku arsitektur di Indonesia; apakah kita akan terus memopulerkan pemahaman yang demikian?

Fiorent Fernisia

Fiorent Fernisia is now studying Architectural History at The Bartlett School of Architecture, University College London, UK. Her research interests and passions in the field are on architectural drawing and practising theory. Before pursuing her master, she worked as an architect at Monokroma Architect, a creative personnel at OMAH Library, and a part-time lecturer at Universitas Pelita Harapan. She attained her Bachelor Degree in Architecture from the same university in 2012.

More Posts