Belajar Dari Masjid Salman

Kubah menjadi elemen arsitektur yang selalu diidentikkan dengan rumah peribadatan umat Islam di Indonesia. Dewasa ini, kehadiran kubah pada kemuncak Masjid seolah menjadi suatu ambisi yang harus terpenuhi di setiap pekerjaan pembangunan atau renovasi. Semakin besar diameter kubah, semakin megah pula citra yang akan melekat pada masyarakat yang tinggal di lingkungan sekitarnya. Maka, tak jarang kita temui pembangunan masjid yang mangkrak gara-gara kehabisan dana akibat harus menanggung biaya yang membengkak hanya untuk membuat sebuah kubah. Stereotip inilah yang kemudian didobrak oleh Achmad Noe’man lewat rancangan Masjid Salman ITB, masjid pertama yang digagasnya pada tahun 1958.

Alih-alih membuat kubah maha besar, atap masjid rancangannya justru terkesan datar, sedikit melengkung ke atas layaknya posisi tangan menengadah yang sedang memanjatkan doa. Hal ini membuat fasad masjid yang dirancangnya terlihat asing bila dibandingkan dengan masjid kebanyakan di zaman tersebut yang rata-rata menggunakan kubah maupun atap tumpang. Tidak hanya itu. Dengan mengusung semangat modernisme, beliau dengan berani menyingkirkan bentuk-bentuk lengkung, ukiran, maupun kaligrafi ayat suci dan menggantikannya dengan kotak-kotak bersudut tegas, dominasi material kayu yang terkesan membumi, serta tampilan yang jujur tanpa ornamentasi.

Eleminasi “unsur-unsur wajib” pada stereotip mengenai masjid yang beliau lakukan bukannya tanpa alasan. Secara teknis, adanya kubah hanya akan membuat luasan area shalat menjadi berkurang karena diperlukannya kolom-kolom berukuran besar. Sebagai konsekuensinya, kolom-kolom tersebut akan memutus garis shaf antar jamaah serta menghalangi pandangan dari jamaah ke arah mimbar. Tidak hanya itu, keberanian beliau untuk meniadakan kubah juga didasari pada prinsip yang diambilnya dari kutipan ayat suci mengenai larangan perilaku boros, yang kemudian beliau terapkan pada saat penggubahan ruang.

Tampilan Ruang Dalam Masjid Salman (Sumber: flickr.com)

Pembongkaran stereotip yang beliau lakukan seolah mengajak kita untuk melihat kembali ke masa silam. Pada awal penyebaran Islam di Indonesia khususnya Tanah Jawa, masjid-masjid di masa itu umumnya menggunakan atap tumpang yang ditopang oleh empat sokoguru—yang sebetulnya diadopsi dari pengaruh Hindu dengan tujuan mengambil hati masyarakat mayoritas saat itu. Pengaruh kubah yang dibawa dari India dan Timur Tengah awalnya justru hanya menyebar di daerah Melayu dan pesisir utara Sumatera, seperti Aceh, Deli, dan Malaka.

Faktanya, kubah bukan sekadar dimonopoli oleh kalangan Muslim semata. Beberapa bangunan gereja protestan yang dibangun Pemerintah Kolonial juga memiliki kubah dengan penambahan portico seperti yang bisa dilihat pada Gereja Immanuel Jakarta maupun Gereja Blenduk di Semarang hingga saat ini. Jadi, sebenarnya tidak ada pakem maupun aturan mengikat yang mengharuskan setiap masjid memiliki kubah dan ornamentasi.

Melalui Masjid Salman, Noe’man mengingatkan kita untuk kembali memikirkan hal-hal yang sifatnya esensial. Dengan mengesampingkan kubah dan ornamen nonfungsional, beliau mengajarkan kita untuk memaksimalkan fungsi masjid sesuai dengan esensi semula, yakni memfasilitasi jamaah untuk mencapai kualitas khusyuk saat berkomunikasi dengan Sang Pencipta dengan cara mengalami ruang di dalam rumah-Nya. Beliau tak hanya menjadi arsitek yang memelopori pembangunan masjid di dalam area kampus di Indonesia. Melalui prinsip yang dipegangnya dari ayat suci, beliau berani tampil sebagai ikon antitesis terhadap stereotip mengenai masjid yang dipahami oleh masyarakat kebanyakan bahkan sampai hari kepergiannya.

Selamat jalan, Bapak Achmad Noe’man…

 

Sumber:

 

  • Architecture (Indonesian Heritage Series, Vol. 6)
  • http://dmi.or.id/achmad-noeman-masjid-salman-itb-hingga-sarajevo/
  • Obituari Prof Achmad Noe’man: http://www.itb.ac.id/news/5116.xhtml

 

Rizki Dwika

Rizki Dwika, graduated from Architecture Interior Undergraduate Program in Universitas Indonesia. He had assisted Architectural Design Studio 2, Introduction to Architecture, and awarded as the Most Outstanding Student of Architecture in 2015. He is currently working as an interior architect and started his own cushion business named KUMAHA Inc.

More Posts