Cara Instan Menciptakan Ruang

Sebuah ruang open-plan atau pun berbentuk loft [1] memang sangat nyaman karena lega. Namun, agar berfungsi dengan optimal, harus ada pembagian ruang yang jelas untuk fungsi yang berbeda. Nah, artikel ini menyajikan cara-cara instan untuk menciptakan ruang sambil tetap memperhatikan segi fungsi dan estetika.

Perletakan lampu dan Privatisasi Lantai

Ruang makan dan dapur yang menyatu bisa dipisahkan dengan menciptakan ciri khusus pada tiap area. Lampu gantung yang sengaja diletakkan rendah memang dipasang khusus untuk area meja makan. Begitu juga dengan lantai dengan motif khusus yang hanya ada di lantai ruang makan.

Bentuk dan Perletakan Furniture

Sandaran sofa dapat dijadikan pembatas dan membentuk ruang di dalam ruang. Sofa persegi panjang untuk tiga orang,  dideret dan disusun sehingga dapat menjadi ruang yang efisien untuk menampung 6 orang.

Bentuk sofa menyerupai dome sengaja dirancang untuk memisahkan ruang baca di bagian luar sambil menciptakan ruang audio di bagian dalamnya serta menampilkan kesatuan keduanya.

Partisi

Dinding setengah dari bata ekspos putih dipadukan dengan partisi menyerupai jendela. Perpaduan keduanya menjadi pembatas cantik antara area makan yang bernuansa formal dengan area makan bergaya lebih santai. Partisi unik yang menambah daya tarik visual.

Partisi kreatif dari jalinan tali dan kotak yang disusun melayang menjadi batas yang cantik untuk menciptakan ruang makan dan ruang kerja. Partisi ini juga membuktikan geometris itu tidak membosankan.

Kaca

Dinding kaca menciptakan ruang kantor yang memisahkannya dari ruang tamu di sebelahnya, namun tetap memberikan kenyamanan dan keleluasaan visual antar kedua ruang.

Sebenarnya, kamar hotel ini hanya berupa sebuah lorong panjang tanpa batas. Namun, pintu kaca geser berhasil membatasi area duduk dengan kamar mandi dan menciptakan ruang yang berkesan lega serta nyaman.

Rangka Furniture

Rangka atau bagian belakang sofa bisa multifungsi, sebagai kekuatan sofa, rak, dan pembatas antara area duduk dengan kamar tidur. Cerdik, efisien, dan mengoptimalkan pemanfaatan ruang.

Secara cerdik, sang perancang area duduk ini memanfaatkan tali tambang kapal untuk menggantung bangku. Tali tambang ini berperan dalam menciptakan batasan antar area duduk, sekaligus kesan ruang yang artistik, unik, dan mudah dibersihkan karena tidak ada bagian kaki bangku.

Konsep ruang open-plan tanpa dinding pembatas semakin digemari karena mampu menambah kelegaan ruang. Namun, setiap ruang tetap memiliki fungsi masing-masing yang harus diperjelas keberadaannya. Pemanfaatan permainan plafon dan letak tiang struktural dapat membatasi ruang secara visual.

Plafon yang ditinggikan dan sengaja didesain dengan skylight menciptakan ruang makan yang lega dengan pencahayaan yang baik.

Folding Gate

Ternyata, folding gate atau rolling door tidak hanya untuk pintu ruko, tetapi juga bisa dimanfaatkan sebagai elemen interior.  Celah di antara deretan besi menjadi pembatas yang membedakan area lalu lintas publik dengan area foodcourt, sekaligus memberikan keleluasaan view  dari kedua arah.

Karpet

Cara ini menjadi cara paling mudah dalam menciptakan ruang. Letakkan karpet dan voilà….. !  Terciptalah ruang duduk dan area bermain anak.

Berbagai elemen arsitektur dapat dijadikan sarana untuk menciptakan ruang. Mulai dari elemen paling ekstrem yaitu dinding permanen, furnitur, partisi, kaca, folding gate, sampai plafon dan skylight, bahkan yang paling sederhana dengan memanfaatkan karpet.  Kenali dulu fungsi dan sifat ruang yang dibutuhkan, lalu tentukan permanen atau tidakkah ruang tersebut.  Nah, dari sini baru bisa ditentukan jenis, bentuk, dan bahan elemen arsitektur yang akan dimanfaatkan untuk menciptakan ruang;  dan … ingatlah untuk tidak membatasi kreatifitas dalam menciptakan ruang.

[1] ruang open-plan dengan langit-langit tinggi yang bisa dimanfaatkan untuk mezanine

Artikel lainnya :

Kekuatan Hitam dalam Desain

Mengutip Ide Desain Gaya Jepang

 

Joyce Meilanita

Joyce Meilanita lulusan Arsitektur satu-satunya angkatan '95 dari Institut Teknologi Indonesia di tahun 1999. Pernah magang di PT. Schering Indonesia dalam Jadena Project tahun 1998. Sekarang bekerja sebagai guru bimbel untuk preschool sampai highschool. Ia memperluas wawasan dan pengalamannya dengan menulis berbagai artikel arsitektural untuk Arsitag. Ia juga menerjemahkan 41 sinopsis untuk Laruno. Motto hidupnya adalah "Always trying to do your best in God's wish and bless".

More Posts