Hunian Mungil: Think Big, Live Big

Sedari kecil hingga duduk di bangku kuliah, saya tinggal menemani nenek di sebuah rumah kuno. Jika dibandingkan dengan luas rumah kavling-an yang dijual di town house sekarang ini, rumah tersebut terasa cukup luas, sekitar tiga ratus meter persegi. Rumah tersebut dibangun di atas tanah seluas lima ratus meter persegi. Rumah ini terdiri dari sebuah teras semi terbuka, foyer, ruang tamu, enam kamar tidur berukuran jumbo, sebuah ruang keluarga yang cukup luas, ruang makan, dapur, perpustakaan, ruangan bermain sekaligus bersantai, gudang, tiga kamar mandi, innercourt, carport, dan garasi untuk tiga mobil.

Selepas lulus kuliah, saya memutuskan pindah ke Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Di sana, saya tinggal di sebuah kamar kos berukuran 3×3 meter yang dilengkapi dengan kamar mandi dalam. Pada ruangan seluas sembilan meter persegi tersebut, ternyata saya dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan cukup optimal. Tempat tidur yang biasanya hanya digunakan untuk beristirahat, harus sekaligus dimanfaatkan sebagai tempat bersantai saat menonton televisi. Selain itu, meja belajar pun harus difungsi-gandakan sebagai meja makan. Bukan hanya itu, hampir seluruh furnitur kemudian disulap menjadi furnitur multifungsi dadakan.

Dari sinilah, saya mulai bertanya-tanya mengenai besaran optimal sebuah hunian ideal untuk seseorang yang lajang atau baru saja memulai rumah tangga. Berawal dari pertanyaan tersebut, saya semakin giat membaca buku mengenai hunian mungil dan berselancar di dunia maya. Sampai pada suatu saat, saya melihat sebuah video yang sangat menarik mengenai sebuah apartemen tipe studio di Perancis di laman YouTube.

Julie Nabucet, seorang principal firma arsitektur Julie Nabucet Architectures Perancis, merancang sebuah apartemen tipe studio berukuran 11.98 meter persegi di pusat kota Perancis. Interior apartemen tersebut dirancang dengan sangat kompak agar dapat mewadahi seluruh kebutuhan ruang dan tetap memberikan kesan lapang. Saat pintu dibuka, terlihat sebuah ruang utama dengan meja kerja dan barisan lemari builtin yang dipergunakan sebagai lemari pakaian dan perlengkapan rumah. Tempat tidur dirancang tersembunyi di bawah lantai dapur dan bisa ditarik kapan saja saat diperlukan, sedangkan bantal diletakkan pada laci di bawah tangga menuju dapur.

Anak tangga dimanfaatkan sebagai wadah penyimpanan tersembunyi (Sumber: julienabucet.com)

Ruang dapur dengan meja kerja konfigurasi ‘I’ dipisahkan dari ruang utama dengan kotak-kotak kayu yang disusun dengan komposisi acak. Kotak-kotak kayu tersebut dibagi menjadi dua fungsi, yaitu sebagai furnitur pendukung ruang ‘utama’ dan ruang dapur. Keberadaan sebuah wastafel dengan partisi motif cabang pohon dan sebuah kamar mandi mungil pun tidak luput pada apartemen dengan luas kurang dari dua belas meter persegi ini.

Susunan kotak berfungsi sebagai storage tambahan sekaligus partisi non-masif yang dapat meneruskan cahaya ke dalam area dapur (Sumber: julienabucet.com)

Sungguh menarik melihat bagaimana seorang arsitek dapat merancang hunian ‘kompak’ pada luasan lahan yang sangat minim. Kesimpulannya, berapa pun luasan lahan yang dimiliki, asalkan dirancang dengan baik sesuai dengan kebutuhan tentu akan dapat mewadahi seluruh aktivitas penggunanya. Sebagaimana petikan anonim yang pernah saya dengar, “you don’t need more space, you need less stuff”.

Bidang vertikal pada area dapur dimanfaatkan sebagai rak piring dan dinding pada area masuk kamar mandi dipergunakan sebagai area menggantung tas (Sumber: www.julienabucet.com)

 

Sumber:

www.julienabucet.com

 

Dita Kusumawardhani

Dita Kusumawardhani started her career at Imelda Akmal Architectural Writer in 2010 for one and a half year. She was involved in writing the Indonesia Architectural Guide book which was published by DOM Publishers Germany as a contribution for Indonesian architecture. Now, she has been an architecture and interior design writer for the last five years. A graduate of the Department of Architecture, Parahyangan Catholic University Bandung, she is now working as a key speaker for a radio station in Bandung, a freelance contributor for an architecture magazine, and a contributor for Arsitag.

More Posts