Jika Makanan = Energi + Rasa, Arsitektur?

Orang-orang yang memiliki bakat makan cepat biasanya bangga untuk bisa meluangkan sisa waktu makannya untuk hal-hal yang lebih produktif. Mereka memilih untuk tidak membuang waktu untuk masak atau ke restoran, ketawa haha-hihi dengan teman, dan handal menggunakan jurus “suap-gigit-telan.” Dengan metode ini mereka bisa mengisi perutnya dengan makanan antar cepat saji dalam waktu kurang dari lima menit. Apa nilai arsitektural yang dapat kita pelajari dari proses makan yang seperti ini?

Pilihan yang kita buat dalam keseharian (termasuk perihal bangunan yang kita rancang dan huni) memperlihatkan nilai kehidupan yang kita pegang. Apakah Anda memilih tinggal di rumah yang “yang-penting-bisa-berteduh” seperti cara makan yang di atas, atau rumah yang memberikan Anda kesempatan untuk mengalami keindahan dan kepuasan ibarat sedapnya rasa makanan?

Bukan hanya di tingkat personal, pilihan suatu masyarakat akan jenis atau model rumah atau bangunan lain yang mereka tinggali mencerminkan pula nilai-nilai hidup dan peradaban masyarakat tersebut.

Contoh: munculnya revolusi industri di peradaban masyarakat Eropa tahun 1950-an sejak ditemukannya material bangunan baru seperti besi dan kaca membuat persepsi akan bangunan berubah. Yang modern (kekinian) harus yang menggunakan teknologi terbaru. Apa nilai yang mereka junjung? Mungkin kebanggaan.

Di saat yang sama revolusi industri juga membuat kota-kota besar seperti Paris dan London menjadi jorok dan penuh penyakit. Menanggapi itu, muncul orang-orang yang mengutamakan kebersihan serta lantas membudayakan arsitektur yang putih dan tidak banyak dekorasi sehingga mudah dibersihkan. Bersih menjadi definisi modern saat itu, tepatnya sekitar tahun 1920-an.

Hal ini mengingatkan saya tentang rumah deret tahun 1990-an di komplek tempat saya tinggal. Meskipun wajah rumah-rumah tersebut penuh jendela dari kaca nako, mereka hampir tidak dibuka. “Debu,” kata pemilik-pemilik rumah itu, “Bayangkan jika kami harus membersihkan debu dari setiap sirip nako ini jika jendela ini kami buka.” Sebagai gantinya, mereka memilih untuk menggunakan penyejuk udara di ruang-ruang yang sering mereka huni, alias kamar tidur. Suatu hari saya bertanya pada salah satu tetangga saya tentang rumah impiannya. Jawabnya, “mungkin rumah yang tidak ada temboknya kecuali untuk kamar mandi, jadi saya cukup menaruh satu penyejuk ruangan saja untuk seluruh rumah, toh keluarga saya jarang menggunakan ruang tamu dan ruang keluarga.”

Sedikit cuplikan sejarah dan ulasan kontemporer tentang kehidupan tetangga-tetangga saya di atas memperlihatkan bagaimana suatu sikap hidup bisa melahirkan dan dilahirkan oleh arsitektur. Jika makanan adalah energi ditambah rasa, arsitektur juga selain perlu bisa berdiri tegak dan berfungsi, haruslah memiliki nilai keindahan yang dapat memberi Anda rasa puas.

Tulisan ini belum menjelaskan seperti apa keindahan arsitektur yang rasanya seperti nikmatnya makanan enak. Tidak pula saya berargumen bahwa semua arsitek pasti mengerti tentangnya. Tapi paling tidak mulai sekarang, jika ada arsitek atau developer yang menawarkan gaya desain bangunan yang super ultra modern minimalis, coba tanyakan dulu apa artinya dan cocokkan nilai yang terkandung di dalamnya, apakah sesuai dengan kebiasaan hidup dan arti keindahan yang anda pahami atau tidak. Jangan-jangan Anda juga seperti saya, selalu bersin-bersin ketika terlalu lama berada di ruang ber-penyejuk udara. Karena kalau sudah begitu, modern seperti apapun juga tidak lagi indah bukan?

 

-FF

Fiorent Fernisia

Fiorent Fernisia is now studying Architectural History at The Bartlett School of Architecture, University College London, UK. Her research interests and passions in the field are on architectural drawing and practising theory. Before pursuing her master, she worked as an architect at Monokroma Architect, a creative personnel at OMAH Library, and a part-time lecturer at Universitas Pelita Harapan. She attained her Bachelor Degree in Architecture from the same university in 2012.

More Posts