{"id":2038,"date":"2023-05-17T04:17:00","date_gmt":"2023-05-17T04:17:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/?p=2038"},"modified":"2023-05-17T04:19:26","modified_gmt":"2023-05-17T04:19:26","slug":"jalan-setapak-taman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/jalan-setapak-taman\/","title":{"rendered":"Desain Jalan Setapak untuk Taman Rumah yang Super Cantik"},"content":{"rendered":"\n<p>Taman memiliki dua elemen, <em>softscape<\/em> (elemen lunak) seperti tanaman dan air, serta <em>hardscape<\/em> (elemen keras) seperti batu dan jalan setapak. Keberadaan jalan setapak memang memiliki fungsi utama sebagai akses masuk area taman, tetapi lebih dari itu, jalan setapak juga bisa menjadi bagian dari unsur estetika. Keestetikaan ini bisa didapat baik dari pola, warna, bahan, dan tentunya desain.<\/p>\n\n\n\n<p>Lantas, desain seperti apa yang cocok untuk jalan setapak di taman rumah Anda? Untuk memperkaya ide, berikut beberapa referensi yang bisa dipilih.<\/p>\n\n\n\n<ol><li><strong>Susunan Batu Alam&nbsp;<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"683\" src=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-69-1024x683.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2041\" srcset=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-69-1024x683.png 1024w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-69-300x200.png 300w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-69-768x512.png 768w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-69-1536x1024.png 1536w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-69.png 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption><em>Desain Taman Proyek Cacao Bamboo House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/agung-budi-raharsa-architecture-engineering\"><em>Agung Budi Raharsa<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/cacao-bamboo-house-bali\/photo\/88797\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Jika taman rumah Anda mengusung konsep tropis, <em>stepping <\/em>batu alam bisa menjadi pilihan. Batu alam yang memiliki segi banyak atau berbentuk seperti pecahan juga menarik untuk <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/desain-rumah-minimalis-modern-dengan-taman-tropis-yang-rimbun-dan-cantik\">taman tropis<\/a> yang memiliki pola-pola organik pada desainnya. Selain memiliki tampilan yang alami sehingga harmonis dengan nuansa taman, <em>stepping<\/em> batu alam juga mudah untuk dipindahkan jika ingin mengubah tampilan taman.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"2\"><li><strong>Jembatan Dek Kayu<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<p><img decoding=\"async\" width=\"601\" height=\"339\" src=\"https:\/\/www.arsitag.com\/88426936-7833-4c64-a307-8e46ab0e69a1\" alt=\"C:\\Users\\USER\\Documents\\sribulencer\\Arsitag #169 8 Mei\\Jalan Setapak Taman\\Jalan Setapak Taman - 2.jpeg\"><\/p>\n\n\n\n<p><em>Proyek Yujo Sushi Bogor oleh<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/greenxscape-2\"><em>Greenxscape<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/yujo-sushi-bogor\/photo\/134444\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Bagaimana jika taman rumah Anda memiliki jembatan? Ya, jalan setapak untuk akses taman juga bisa dibuat seperti jembatan. Seperti pada proyek taman Yujo Sushi Bogor di atas, tampak <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/ingin-punya-taman-ala-jepang-di-rumah-pelajari-prinsip-pentingnya-di-sini\">taman berkonsep jepang<\/a> ditambahkan jembatan kayu melengkung di salah satu sisinya. Jembatan ini bahkan tidak hanya untuk akses, tetapi menjadi elemen penting untuk memperkuat konsep taman Jepang.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"3\"><li><strong>Permainan Cahaya<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"768\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-71-768x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2043\" srcset=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-71-768x1024.png 768w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-71-225x300.png 225w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-71.png 1100w\" sizes=\"(max-width: 768px) 100vw, 768px\" \/><figcaption><em>Foto oleh<\/em> <a href=\"https:\/\/unsplash.com\/@shawnanggg\"><em>Shawnanggg<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/FbTMcaMhb1Y\"><em>Unsplash<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Berbentuk organis, tampilan jalan setapak akan lebih atraktif dengan penambahan permainan cahaya. Pemasangan lampu seperti ini tentu saja akan sangat bermanfaat jika taman sering digunakan saat malam hari. Namun, lebih dari itu, pencahayaan juga akan menambah nilai estetika taman. Pilihan tipe pencahayaan untuk jalan setapak sendiri ada beberapa macam; ada yang berupa lampu tiang, lampu sorot, hingga <em>guiding light<\/em> seperti pada foto di atas.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"4\"><li><strong>Paving Semen dan Batu Koral<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"681\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-68-681x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2040\" srcset=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-68-681x1024.png 681w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-68-200x300.png 200w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-68-768x1154.png 768w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-68.png 1000w\" sizes=\"(max-width: 681px) 100vw, 681px\" \/><figcaption><em>Proyek Darmohill Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/michael-lauw-studio\"><em>Michael Lauw Studio<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/darmohill\/photo\/83599\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Mengolaborasikan dua bahan jalan setapak juga menarik untuk dilakukan. Coran semen berupa <em>paving<\/em> berbentuk persegi panjang dipadupadankan dengan batu koral di sekelilingnya. Jika taman sedikit berkontur, Anda bisa mengantisipasi berhamburannya batu dengan membuat batas semen pada jalur setapak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"5\"><li><strong>Kerikil<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"683\" height=\"1024\" src=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-70-683x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2042\" srcset=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-70-683x1024.png 683w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-70-200x300.png 200w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-70-768x1151.png 768w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-70.png 970w\" sizes=\"(max-width: 683px) 100vw, 683px\" \/><figcaption><em>Foto oleh <\/em><a href=\"https:\/\/unsplash.com\/@joeyguns\"><em>Joey Genovese<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/ktd2fT6R-QM\"><em>Unsplash<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Jalan setapak dengan menggunakan hamparan batu kerikil akan membuat nuansa taman menjadi lebih natural. Elemen batu juga bisa menjadi pilihan untuk memberi aksen agar taman tidak terlihat monoton dengan warna tanaman. Warna batu kerikil yang dipilih juga akan mempengaruhi kesan suhu yang ada. Warna gelap misalkan, akan memberi efek lebih dingin dibanding batu dengan warna cerah. Jadi, Anda bisa menyesuaikan pilihan jenis dan warna batu sesuai nuansa yang ingin dihadirkan pada taman<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"6\"><li><strong>Batu Templek<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"612\" src=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-72-1024x612.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-2044\" srcset=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-72-1024x612.png 1024w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-72-300x179.png 300w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-72-768x459.png 768w, https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-content\/uploads\/2023\/05\/image-72.png 1378w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><figcaption><em>Foto oleh<\/em> <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/@quang-nguyen-vinh-222549\/\"><em>Quang Nguyen<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/stone-path-leading-to-a-bungalow-14023226\/\"><em>Pexels<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Rumah-rumah tradisional atau rumah nenek Anda mungkin masih menggunakan bahan batu templek untuk menghiasi taman. Batu alam berwarna hitam ini memiliki ukuran dan bentuk yang beragam sehingga sering pula disebut batu acak. Oleh karena bentuknya yang acak, pemasangan batu ini terbilang gampang-gampang susah. Perlu perhatian khusus ketika memasangnya agar tidak terkesan terlalu ditata atau bahkan penyebaran yang tidak rata. Sebagai jalan setapak, batu templek memiliki keunggulan karena tahan terhadap cuaca ekstrem serta tidak mudah ditumbuhi lumut.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, Anda tertarik untuk membuat jalan setapak di <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/desain\/taman\">taman rumah<\/a> dengan bahan dan desain seperti apa?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Taman memiliki dua elemen, softscape (elemen lunak) seperti tanaman dan air, serta hardscape (elemen keras) seperti batu dan jalan setapak. Keberadaan jalan setapak memang memiliki fungsi utama sebagai akses masuk area taman, tetapi lebih dari itu, jalan setapak juga bisa menjadi bagian dari unsur estetika. Keestetikaan ini bisa didapat baik dari pola, warna, bahan, dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2039,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[300,108],"tags":[1024,1025],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2038"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2038"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2038\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2061,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2038\/revisions\/2061"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2039"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2038"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2038"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2038"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}