{"id":2496,"date":"2023-08-11T10:30:00","date_gmt":"2023-08-11T10:30:00","guid":{"rendered":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/?p=2496"},"modified":"2023-08-11T10:30:27","modified_gmt":"2023-08-11T10:30:27","slug":"desain-batu-taman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-batu-taman\/","title":{"rendered":"Desain Taman Rumah dengan Bebatuan yang Menawan"},"content":{"rendered":"\n<p><em>Proyek RR House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/rakta-studio\"><em>Rakta Studio<\/em><\/a><em> <\/em><em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/rr-house-5\/photo\/102336\"><em>arsitag<\/em><\/a><\/p>\n\n\n\n<p>Selain tanaman yang merupakan bagian dari <em>softscape<\/em>, dalam dunia desain lanskap dikenal juga elemen <em>hardscape<\/em>, contohnya adalah bebatuan. Batu, baik yang berukuran besar hingga berupa kerikil, bisa menjadi pelengkap estetika pada taman.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Adanya elemen bebatuan pada taman juga akan memberi kesan lebih natural karena pada alam sesungguhnya, batu biasa ditemui bersama dengan tanaman, air, dan elemen lanskap lain.<\/p>\n\n\n\n<p>Anda yang berencana membuat atau merombak taman rumah, tak ada salahnya untuk menempatkan batu. Tak melulu untuk taman kering, batu juga bisa menjadi elemen dekorasi untuk taman tropis.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Tak percaya dengan menariknya bebatuan untuk menghiasi taman? Berikut beberapa desain taman yang menggunakan bebatuan yang menawan.<\/p>\n\n\n\n<ol><li><strong>Batu Alam untuk Kesan Natural<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh6.googleusercontent.com\/XwwkTZtvYnZUGz45zjKI-RNawPBd5AwnMo6cu2470xUegFkNr7IA-fYj8lvfk1h3OE5pmKUSuTNQjQGBycDlf_47dBZkC3HFN4jfg2i0DsnJbdkIm7kBMyXHySVjiFos8QX_xKgDBenFFglmUbQvIu3CepLQUQ2YYd5Eq0Lnhtn6RZLrV1uPY9NETF5jy4tiFzABg7eUFg\" alt=\"Proyek LL House Karya Studio TonTon via Arsitag\" \/><figcaption><em>Proyek LL House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/studio-tonton\"><em>Studio TonTon<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/ll-house\/photo\/8199\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Dedaunan dari pohon yang rindang, akar gantung, air, dan bebatuan, menjadi kesatuan yang membuat taman rumah karya Studio TonTon ini terlihat natural. Menariknya, meskipun memiliki pola desain geometris berupa garis-garis lurus, keberadaan elemen lanskap yang menyertainya menjadikan taman LL house ini terlihat lebih atraktif.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu yang mencuri perhatian ialah hamparan <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-batu-taman\/\">batuan <\/a>alam berukuran cukup besar di salah satu sisi taman. Hamparan batu ini menjadi penyeimbang unsur air yang merefleksikan sungai sebagaimana di alam aslinya.<\/p>\n\n\n\n<p>.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"2\"><li><strong>Batu sebagai Ciri Taman Zen<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/YbydEZyxGVJdsRvmsIfcqXx-D84feLWfIHnG37ntrJN51zobsN_Xw8oPzSccOv1gMgLem2DKdQQ11skJP_m1ZcPZ6d0CalOzrlZu3fh0BFrwTeAz6AEHIaoebM8SpFpIqlx6W8eHczMWyVThrs684nJkdmBtgRDc8shkyYcFgbZm449cfUSQnk23BB4hQNZgjmJOxrT7ZA\" alt=\"Proyek PJ House Karya Rakta Studio via Arsitag\" \/><figcaption><em>Proyek PJ House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/rakta-studio\"><em>Rakta Studio<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/pj-house\/photo\/68721\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/taman-kering-ala-jepang\/\">Taman Zen<\/a> merupakan taman khas Jepang yang memiliki ciri berupa hamparan pasir dan batu. Hamparan pasir biasanya akan diberi motif seperti riak air. Sedangkan, batuan menjadi simbol pulau yang tersebar di sekitar lautan. Selain filosofi yang terkandung di dalamnya, adanya batuan alam dengan berbagai bentuk ini memberi visual tersendiri yang unik, namun tetap cantik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"3\"><li><strong><em>Courtyard<\/em><\/strong><strong> dengan Bebatuan, untuk Kemudahan Perawatan<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/sUQOVknpsRFaftsaevN7XMSBzujgAe-Cs8AVeyUzIG39bDrGU0qYRXuK17u4-MNxyDKWTfA2hCJZZn-E29gHpT0r0Wur7qjmX2ZVD2G_Lr_uGo69_1rvFNehFQxDpOCnIbSt6WUeOGC2ODdw3VucKuMU6Z7pbWzd9HzfiNLoH5tTYHzpktXwnKYJmxvwh1s_xw9k1RBlAg\" alt=\"Proyek LF House Karya Rakta Studio via Arsitag\" \/><figcaption><em>Proyek LF House Karya<\/em> <a href=\"blank\"><em>Rakta Studio<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/lf-house\/photo\/102045\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Jika Anda memiliki ruang terbuka di antara bangunan atau ruang dan ingin menjadikannya taman, konsep taman kering bisa menjadi pilihan. Taman kering ini didominasi oleh bebatuan, baik itu <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/taman-minimalis-batu-kerikil\/\">kerikil<\/a> atau bebatuan besar sebagai aksen. Dominasi elemen <em>hardscape<\/em> seperti ini tentunya akan membuat perawatan menjadi lebih ringan. Hanya saja, perlu pembersihan dengan cairan khusus untuk menghindari lumut yang biasanya akan menempel pada bebatuan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"4\"><li><strong><em>Outdoor Bath<\/em><\/strong><strong> Nuansa Alam Bali dengan Batu Alam<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/O90ZFH6zUz-5nWB-CwPZ2T69tuPhiTazMDRuhxCrqDoLyjj3xfHRoiPdBOvlTOaceUH5EeSknoepgLieziTyDNu6_HHvACVxT5HuQYMcoG3zQTz8CxYbV4J1nJqc8ZnaYRPNK7YW1mC6RGQLfw-yTWNaEL5vMEED_RA0d78-tITwEqLP1Ez66YCmo2d9dH2zAyRY2t6wbg\" alt=\"Proyek Cacao Bamboo House Karya Agung Budi Raharsa via Arsitag\" \/><figcaption><em>Proyek Cacao Bamboo House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/agung-budi-raharsa-architecture-engineering\"><em>Agung Budi Raharsa<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/cacao-bamboo-house-bali\/photo\/88787\"><em>Arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Taman yang dijadikan area <em>outdoor bath<\/em> rasanya juga sangat menarik untuk diaplikasikan pada rumah. Tentunya untuk memberi kesan alami, batuan diperlukan tidak hanya sebagai elemen dekorasi, tetapi juga untuk peran esensial lain. Lantai misalkan, digunakan batuan kerikil yang permukaannya halus. Pijakan area shower menggunakan lempeng batu alam, hingga <em>bathtub<\/em>-nya sendiri bisa pula di <em>custom <\/em>menggunakan material batu alam. Tak lupa, penempatan tanaman untuk lebih menegaskan konsep alam yang sesungguhnya.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"5\"><li><strong>Batu Pijak yang Estetik<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh5.googleusercontent.com\/bIVvbD7stJzJwfZQaDcG3buufq_xKf7yHgZyhTD9R2YjNZ1Vd3Mf6SB18gMX2PBhz-ydzGqrR6XhwTH_rLVeZwGRsu1Bjql1VA0cdAKDV46oNw7sN-PR2hVpNs9YbrDx__rNUH4TtgCt8skY_MMoOGIP0F4vYLJNu9M9kZYVvdOvTf2vyvKlZlV86hNb8Q9f2-4hIBsZNw\" alt=\"Proyek Cacao Bamboo House Karya Agung Budi Raharsa via arsitag\" \/><figcaption><em>Proyek Cacao Bamboo House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/agung-budi-raharsa-architecture-engineering\"><em>Agung Budi Raharsa<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/cacao-bamboo-house-bali\/photo\/88797\"><em>arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/jalan-setapak-taman\/\">Batu pijakan<\/a> atau <em>stepping stone <\/em>pada taman tidak hanya penting secara peran. Dalam desain, batu pijakan ini bisa menjadi elemen estetika dan memperkuat konsep taman itu sendiri. Seperti pada taman di proyek <em>Cacao Bamboo House<\/em> di atas, <em>stepping stone<\/em> dipilih dari batuan dengan bentuk acak untuk menghadirkan kesan lebih alami. Warna dan tekstur alami dari batuan juga dipertahankan sehingga lebih harmonis dengan suasana taman secara keseluruhan.<\/p>\n\n\n\n<ol start=\"6\"><li><strong>Permainan Warna pada Bebatuan<\/strong><\/li><\/ol>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/lh3.googleusercontent.com\/L9dZhlZ2R6p2HaH_lbSBpEAo2mgXfJg1NYFoL9sUd4Lym9S0l93NQdpqI4rRLiyQrsA8JzVyfOvn1MxkiEO7OrqZQ0tsMLyq40M2zg_09wpm86GnQytQSMc7AfFfYE2Mzc0BMHScAwc98FkvBfwZ0Wa8hj9amqybTY3Y92kwgNapUvY1jWnn-R08y8MPW1z4z6wasKyLlw\" alt=\"Proyek FJ House Karya Studiogra\/ph via arsitag\" \/><figcaption><em>Proyek FJ House Karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/studiograph-architects\"><em>Studiogra\/ph<\/em><\/a><em> via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/fj-house-1\/photo\/112009\"><em>arsitag<\/em><\/a><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p>Batu tidak hanya berwarna abu atau hitam. Ada juga bebatuan dengan warna putih, kekuningan, hingga kemerahan. Potensi inilah yang bisa dimanfaatkan untuk menjadikan batu sebagai elemen taman yang lebih atraktif. Perbedaan warna batu bisa dikreasikan sebagai aksen, atau seperti pada Proyek FJ House di atas, yaitu sebagai pembentuk pola.<\/p>\n\n\n\n<p>Bebatuan pada taman pada akhirnya tidak hanya sebagai pelengkap. Batu bisa menjadi bagian penting untuk mendukung konsep taman, bahkan menjadi bagian utama yang membangun taman.&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Proyek RR House Karya Rakta Studio via arsitag Selain tanaman yang merupakan bagian dari softscape, dalam dunia desain lanskap dikenal juga elemen hardscape, contohnya adalah bebatuan. Batu, baik yang berukuran besar hingga berupa kerikil, bisa menjadi pelengkap estetika pada taman.&nbsp; Adanya elemen bebatuan pada taman juga akan memberi kesan lebih natural karena pada alam sesungguhnya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2497,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[318,108],"tags":[1139],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2496"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2496"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2496\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2505,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2496\/revisions\/2505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2497"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2496"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2496"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2496"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}