{"id":897,"date":"2022-12-15T10:03:50","date_gmt":"2022-12-15T10:03:50","guid":{"rendered":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/?p=897"},"modified":"2023-05-15T09:20:32","modified_gmt":"2023-05-15T09:20:32","slug":"desain-pagar-tembok-minimalis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/","title":{"rendered":"Desain Pagar Tembok Minimalis untuk Privasi yang Estetis"},"content":{"rendered":"\n<p>Pagar tembok minimalis kerap menjadi pilihan karena dianggap memiliki banyak keunggulan. Selain mudah dalam perawatan, pagar tembok juga bisa dikombinasikan dengan material lain seperti besi, kayu, batu alam, dan masih banyak lagi. Selain itu, <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/desain-pagar-rumah-minimalis-sederhana-namun-menawan\">pagar<\/a> tembok juga cocok untuk penghuni yang ingin rumahnya lebih privasi.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, sering kali menjadi kekhawatiran banyak orang ialah pagar tembok akan terkesan membosankan dan tidak estetis. Lantas, apakah benar demikian? Berikut beberapa contoh pagar tembok minimalis yang nyatanya tetap estetis untuk privasi rumah Anda.<\/p>\n\n\n\n<div id=\"ez-toc-container\" class=\"ez-toc-v2_0_33_2 counter-hierarchy ez-toc-counter ez-toc-grey ez-toc-container-direction\">\n<div class=\"ez-toc-title-container\">\n<p class=\"ez-toc-title\">Table of Contents<\/p>\n<span class=\"ez-toc-title-toggle\"><a href=\"#\" class=\"ez-toc-pull-right ez-toc-btn ez-toc-btn-xs ez-toc-btn-default ez-toc-toggle\" style=\"display: none;\"><label for=\"item\" aria-label=\"Table of Content\"><i class=\"ez-toc-glyphicon ez-toc-icon-toggle\"><\/i><\/label><input type=\"checkbox\" id=\"item\"><\/a><\/span><\/div>\n<nav><ul class='ez-toc-list ez-toc-list-level-1'><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-1\" href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/#1_Panel_beton_yang_kokoh\" title=\"1. Panel beton yang kokoh \">1. Panel beton yang kokoh <\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-2\" href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/#2_Pagar_beton_dan_wiremesh_untuk_gaya_industrial\" title=\"2. Pagar beton dan wiremesh untuk gaya industrial \">2. Pagar beton dan wiremesh untuk gaya industrial <\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-3\" href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/#3_Menarik_dengan_tekstur_batu_putih\" title=\"3. Menarik dengan tekstur batu putih \">3. Menarik dengan tekstur batu putih <\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-4\" href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/#4_Artistik_melalui_permainan_pola_dan_material\" title=\"4. Artistik melalui permainan pola dan material \">4. Artistik melalui permainan pola dan material <\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-5\" href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/#5_Permainan_tekstur_pada_pagar_tembok\" title=\"5. Permainan tekstur pada pagar tembok \">5. Permainan tekstur pada pagar tembok <\/a><\/li><li class='ez-toc-page-1 ez-toc-heading-level-2'><a class=\"ez-toc-link ez-toc-heading-6\" href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/desain-pagar-tembok-minimalis\/#6_Pagar_minimalis_berwarna_hitam\" title=\"6. Pagar minimalis berwarna hitam \">6. Pagar minimalis berwarna hitam <\/a><\/li><\/ul><\/nav><\/div>\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"1_Panel_beton_yang_kokoh\"><\/span><strong>1. Panel beton yang kokoh<\/strong><br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/arsitagx-master-article.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com\/article-photo\/1008\/pagar-tembok-minimalis-1.jpg\"><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Pagar <\/em><em>beton<\/em><em> ekspos, karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/rakta-studio\"><em>RAKTA STUDIO<\/em><\/a><em>,<\/em> <em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/rr-house-5\/photo\/102332\"><em>arsitag.com<\/em><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p>Menghadirkan kesan kokoh, <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/desain-interior-apartemen-industrial-dengan-beton-ekspos-yang-berkarakter\">beton ekspos<\/a> berupa susunan panel beton ini bisa menjadi alternatif yang menarik. Desain pagar minimalis tetap terlihat artistik dengan penambahan elemen penunjang berupa pencahayaan dan tanaman di <em>planter box<\/em>. Secara fungsi, pagar tembok masif seperti ini juga sangat tepat untuk Anda yang ingin kesan privasi pada hunian.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"2_Pagar_beton_dan_wiremesh_untuk_gaya_industrial\"><\/span><strong>2. Pagar beton dan <em>wiremesh<\/em> untuk gaya industrial<\/strong><br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/arsitagx-master-article.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com\/article-photo\/1008\/pagar-tembok-minimalis-2.jpg\"><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Pagar gaya industrial<\/em><em>,<\/em><em> karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/rakta-studio\"><em>RAKTA STUDIO<\/em><\/a><em>,<\/em> <em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/rj-house\/photo\/105896\"><em>arsitag.com<\/em><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p>Anda yang menyukai desain bergaya industrial, bisa mengambil inspirasi dari pagar minimalis karya Rakta Studio di atas. <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/pagar-rumah-minimalis\/\">Pagar <\/a>beton tidak berdiri sendiri, melainkan dikolaborasi dengan pagar besi model <em>wiremesh<\/em>. Konsep pagar industrial seperti ini membuat pagar rumah terasa lebih atraktif atau tidak kaku, ketimbang hanya memasang pagar beton saja. Sedangkan, untuk menjaga privasi ke arah dalam rumah, area pagar <em>wiremesh<\/em> bisa diberi tanaman jenis <em>screen<\/em>.<br><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Baca juga:&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/ide-desain-pagar-taman-minimalis-keren-untuk-halaman-rumah-anda\">Ide Desain Pagar Taman Minimalis Keren untuk Halaman Rumah<\/a><\/strong><\/em><br><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"3_Menarik_dengan_tekstur_batu_putih\"><\/span><strong>3. Menarik dengan tekstur batu putih<\/strong><br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/arsitagx-master-article.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com\/article-photo\/1008\/pagar-tembok-minimalis-3.jpg\"><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Pagar tembok batu alam<\/em><em>,<\/em><em> karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/monokroma-architect\"><em>Monokroma Architect<\/em><\/a><em>,<\/em> <em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/bayview-garden-villa-bali\/photo\/35191\"><em>arsitag.com<\/em><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p>Menggunakan pagar beton secara utuh atau tanpa aksen material lain, mungkin akan membuat tampilan hunian menjadi membosankan. Mengatasi hal tersebut, memberikan tekstur pada permukaan beton bisa dilakukan. Tekstur ini bisa dihadirkan melalui penempelan batu alam di permukaan semen. Contoh batu alam yang bisa dipakai ialah batu alam Bali warna putih, batu gamping, atau batu kapur putih. Selain memberikan tekstur sehingga tampilan pagar tidak monoton, material seperti ini juga akan membuat lingkungan terasa lebih sejuk dibanding hanya menggunakan semen ekspos.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"4_Artistik_melalui_permainan_pola_dan_material\"><\/span><strong>4. Artistik melalui permainan pola dan material<\/strong><br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/arsitagx-master-article.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com\/article-photo\/1008\/pagar-tembok-minimalis-4.jpg\"><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Pagar artistik<\/em><em>,<\/em><em> karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/das-quadrat\"><em>Das Quadrat<\/em><\/a><em>,<\/em> <em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/selat-house\/photo\/9369\"><em>arsitag.com<\/em><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p>Pagar rumah karya Das Quadrat di atas terbilang sangat menarik dan artistik. Bagaimana tidak, alih-alih hanya membuat pagar tembok biasa, arsitek justru memberi permainan pola bentuk menjadi potongan-potongan pagar vertikal berbeda ukuran. Hal ini tentu membuat pagar terlihat jauh lebih atraktif. Bahkan, jika diperhatikan kembali, pagar tembok ini juga dipadukan dengan material kaca buram dan <em>polycarbonate<\/em>. Material ini memberi efek <em>translucent<\/em> yang menjadikan cahaya masih bisa tembuh ke arah dalam, tetapi tidak begitu transparan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"5_Permainan_tekstur_pada_pagar_tembok\"><\/span><strong>5. Permainan tekstur pada pagar tembok<\/strong><br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/arsitagx-master-article.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com\/article-photo\/1008\/pagar-tembok-minimalis-5.jpg\"><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Pagar tembok<\/em><em>,<\/em><em> karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/mint-ds\"><em>MINT-DS<\/em><\/a><em>,<\/em> <em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/is-house\/photo\/16291\"><em>arsitag.com<\/em><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p>Melakukan permainan tekstur pada beton tentu akan menjadikan pagar hunian menjadi lebih menarik dan artistik. Seperti pada proyek IS House di Kemang, Jakarta Selatan karya Mint-DS di atas. Tampak pagar tembok memiliki dua tekstur berbeda dari dua material berbeda pula. Bagian atas yang berwarna lebih terang merupakan tembok semen, sedangkan bagian bawah yang yang lebih dominan merupakan batu alam. Penempelan batu alam pada pagar tembok ini memberi tekstur kasar sehingga pagar terlihat lebih estetis.<br><\/p>\n\n\n\n<p><em><strong>Baca juga:&nbsp;<a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/desain-pagar-rumah-minimalis-sederhana-namun-menawan\">Desain Pagar Rumah Minimalis Sederhana Namun Menawan<\/a><\/strong><\/em><br><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><span class=\"ez-toc-section\" id=\"6_Pagar_minimalis_berwarna_hitam\"><\/span><strong>6. Pagar minimalis berwarna hitam<\/strong><br><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/arsitagx-master-article.s3.ap-southeast-1.amazonaws.com\/article-photo\/1008\/pagar-tembok-minimalis-6.jpeg\"><span class=\"ez-toc-section-end\"><\/span><\/h2>\n\n\n\n<p><em>Pagar tembok warna hitam<\/em><em>,<\/em><em> karya<\/em> <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/profile\/ivan-priatman-architecture\"><em>Ivan Priatman Architecture<\/em><\/a><em>,<\/em> <em>via <\/em><a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/project\/ipcw-residence\/photo\/23747\"><em>arsitag.com<\/em><\/a><br><\/p>\n\n\n\n<p>Warna hitam dipilih arsitek Ivan Priatman untuk pagar minimalis dari rumah yang justru berwarna dominasi putih. <a href=\"https:\/\/www.arsitag.com\/article\/inspirasi-desain-ruang-keluarga-dengan-background-hitam-yang-keren-dan-elegan\">Warna hitam<\/a> yang dipilih tampaknya menjadi daya tarik tersendiri, karena justru membuat tampilan arsitektur rumah lebih menonjol. Meskipun berwarna gelap, pagar tembok dikolaborasikan dengan pagar besi <em>hollow<\/em> sehingga siluet atau tekstur tanaman di taman rumah tetap terlihat dari luar. Hal ini menjadikan pagar yang terkesan monoton menjadi lebih menarik perhatian.<\/p>\n\n\n\n<p>Wah, ternyata pagar tembok minimalis tetap bisa atraktif dan estetis bukan? Semoga informasi ini bermanfaat dan bisa membantu Anda memilih pagar tembok yang cocok untuk hunian Anda.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pagar tembok minimalis kerap menjadi pilihan karena dianggap memiliki banyak keunggulan. Selain mudah dalam perawatan, pagar tembok juga bisa dikombinasikan dengan material lain seperti besi, kayu, batu alam, dan masih banyak lagi. Selain itu, pagar tembok juga cocok untuk penghuni yang ingin rumahnya lebih privasi. Namun, sering kali menjadi kekhawatiran banyak orang ialah pagar tembok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":908,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[300,264],"tags":[650,651],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/897"}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=897"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/897\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2059,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/897\/revisions\/2059"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/media\/908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=897"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=897"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.arsitag.com\/media\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=897"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}