5 Kebiasaan Arsitek dan Desainer Sukses

5 Kebiasaan Arsitek dan Desainer Sukses | Foto artikel Arsitag

Desain para arsitek biasanya bersifat personal dan memiliki cerita tersendiri. Dalam proses pembuatan sebuah desain, seorang arsitek atau desainer memiliki kebiasaan tertentu yang mempengaruhi kelancaran dalam membuat sebuah karya.

CEO 30X40 Workshop.Design Eric Reinholdt, misalnya, setiap kali memulai suatu proyek ia harus menggunakan pensil ringan yang ujungnya berukuran sedang untuk membuat desain, dibawa ke lokasi proyek, menulis, mencatat, dan membuat sketsa. Dengan begitu, ia merasa ide dapat mengalir.

Dari banyak kebiasaan arsitek dan desainer, setidaknya ada empat kebiasaan lain yang cukup esensial untuk dicermati dalam meraih kesuksesan.

1. Mereka Bercerita

Arsitek umumnya diajarkan di sekolah desain bahwa dalam memutuskan membuat sebuah konsep rancangan, narasi atau cerita memiliki peranan yang cukup penting. Dari sudut pandang klien, sebuah rumah yang tidak hanya baik dari aspek fungsi, tetapi juga bercerita, dapat memberikan pengalaman yang unik tersendiri.

Misalnya, cerita-cerita tersebut bisa dikembangkan dari konsep-konsep umum seperti “Ruangan Dengan Pencahayaan Alami”, “Ruangan Dengan Tanaman”, atau permintaan khusus klien lainnya.

5 Kebiasaan Arsitek dan Desainer Sukses

Bandungan House at Semarang (Sumber : arsitag.com)

2. Mereka Mengambil Risiko

Seperti para seniman lainnya, arsitek dan desainer selalu dituntut untuk terus dapat melihat banyak hal dari perspektif yang beragam. Tuntutan tersebut sangatlah berisiko karena seringkali berpikir di luar kotak berarti melakukan atau membuat sesuatu dengan cara yang tidak seperti biasanya. Namun, kesuksesan dapat diraih dari hal tersebut.

Misalnya, perlakukan dinding sebagai sketchbook, akankah hasilnya bagus atau tidak? Well, pasti berisiko, tapi kenapa tidak?

Sumber : www.shantellmartin.com

Sumber : www.shantellmartin.com

3. Mereka Sistematis

Arsitek dan desainer banyak yang berpedoman untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip tertentu secara runut atau sistematis. Pada dasarnya ini berarti Anda menyusun skala prioritas dalam menentukan hal-hal yang paling penting untuk dilakukan, diperhatikan, atau tidak.

Misalnya, ketika memulai sebuah proyek, seorang arsitek mengevaluasi tiga aspek penting saja; bangunannya baru atau lama, klien, dan budget. Di sisi lain, ketika merenovasi boleh jadi urutan prinsipnya adalah pertimbangan mengenai cahaya alami, ruang, koneksi ke luar ruangan, dan sebagainya.

4. Mereka Melanggar Aturan

Ketika arsitek atau desainer memiliki prinsip keteraturan atau sistematis, maka ketika keadaan mengharuskan mereka melanggar aturan, perhitungan konsekuensi dapat dilakukan secara lebih masuk akal. Berpikir di luar kotak adalah sebuah tuntutan dan tidak jarang itu mengharuskan seorang desainer untuk melanggar pakem tertentu.

Salah satu contohnya mungkin tempat peralatan dapur tidak harus selalu tersembunyi di lemari atau menempel ke tembok.

Sumber : www.architecturaldigest.com

Sumber : www.architecturaldigest.com

5. Mereka Menyederhanakan

Menyederhanakan adalah menghilangkan hal-hal tidak penting agar hal-hal yang penting menonjol. Dalam aspek fungsi, misalnya, jika sesuatu tidak memiliki fungsi untuk rumah dan penghuninya, keberadaan barang tersebut patut dipertanyakan.

Sumber : www.mydomine.com

Sumber : www.mydomine.com

Apakah Anda memiliki kebiasaan tertentu yang membantu Anda dalam bekerja?

Butuh bantuan untuk proyek Anda? Dapatkan penawaran dari profesional terpercaya tanpa biaya apapun!

Disini

AUTHOR

Meizar Ahmad Assiry

Ijey adalah seorang analis media di Kiroyan Partners yang gandrung akan karya-karya Wes Anderson. Ia menulis topik bisnis dan desain untuk blog.sribu.com. Lulusan Sastra Inggris Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini juga pernah menulis untuk Go-Jek, Mitra Adi Perkasa, Otobro (MAP) dan Visualnanny.