Desain Taman Renungan Bung Karno yang Ikonik Karya Andramatin di Ende NTT

Desain Taman Renungan Bung Karno yang Ikonik Karya Andramatin di Ende NTT | Foto artikel Arsitag

Desain Taman Ende, karya Andramatin,via arsitag.com

Sejarah mencatat antara tahun 1934-1938, Soekarno diasingkan oleh Belanda di sebuah daerah bernama Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Pengasingan ini dilakukan Belanda untuk membatasi ruang gerak politik Soekarno. Di masa pengasingan ini, Soekarno terkenal sering merenung duduk di bawah pohon sukun, tak jauh dari rumah pengasingannya. Perenungannya ini membuahkan suatu pemikiran yang sekarang menjadi dasar negara kita, Pancasila.

Mengenang peristiwa bersejarah itu, maka dibangunlah taman yang populer disebut Taman Renungan Bung Karno. Di taman yang diresmikan tahun 2013 ini pula, dibangun sebuah patung Bung Karno yang sedang duduk menghadap pantai, persis di samping sebuah pohon sukun. Siapa perancang taman yang kini menjadi kebanggaan masyarakat NTT ini? Tak lain ialah arsitek kenamaan Indonesia, Andramatin.

Simbol Ketenangan dengan Desain Minimalis
Desain Taman Ende, karya Andramatin, via arsitag.com

Desain Taman Ende, karya Andramatin,via arsitag.com
 

Focal point dari Taman Renungan Bung Karno tak lain ialah patung Bung Karno itu sendiri. Patung dengan posisi duduk menyilangkan kaki ini ditempatkan di salah satu sisi ujung bangku yang panjangnya 17 meter. Patung dan bangku ini dibuat lebih tinggi dari level sekitarnya, sehingga kesan monumental lebih terasa. Tak hanya berlevel, tepat di bawah patung terdapat kolam berukuran 8 x 45 meter. Ya, angka-angka ini jelas merujuk pada tanggal kemerdekaan Indonesia. Jika diperhatikan pula, keberadaan kolam sebenarnya tidak hanya untuk menambah estetika, tetapi juga untuk mencegah kemungkinan pengunjung mendekati patung.

Pola sederhana berupa bentuk-bentuk geometris pada monumen menciptakan nuansa sakral di tempat bersejarah ini, dan benar-benar seperti menggambarkan situasi masa lalu. Pohon sukun yang rindang di samping patung juga memberi atmosfer tersendiri sehingga keteduhan kawasan lebih terasa.
 

Baca juga: Desain Rumah Mewah Karya Andramatin dengan Gaya Industrial Minimalis Super Keren
 

Ruang Publik Multifungsi
Desain Taman Ende, karya Andramatin, via arsitag.com

Desain Taman Ende, karya Andramatin,via arsitag.com
 

Arsitek Andramatin merancang taman ikonik Ende ini tidak hanya sebagai sebuah kawasan monumental. Pada taman juga dibangun fasilitas untuk menunjang tujuan wisata di NTT ini, seperti plaza dan amphiteater yang biasa digunakan masyarakat untuk aktivitas seperti kegiatan seni dan pertunjukan. Jalur pedestrian yang aman tersedia untuk mengarahkan sirkulasi pengunjung. Sedangkan, untuk unsur vegetasi, Taman Renungan Bung Karno didominasi oleh pohon beringin. Dipilihnya pohon beringin sangat tepat, karena rimbun dan naungannya luas sehingga pengunjung merasa nyaman untuk beraktivitas di taman.

Representatif dan Estetik
Desain Taman Ende, karya Andramatin, via arsitag.com

Desain Taman Ende, karya Andramatin,via arsitag.com
 

Konsep Taman  Renungan Bung Karno ini bisa dikatakan representatif dengan histori yang pernah terjadi. Ketika pengunjung datang, keberadaan patung langsung bisa dipahami sebagai suatu monumen sejarah. Konsep minimalis melalui pola-pola  desainnya berhasil menghadirkan kesan sakral, tetapi tetap estetik. Hal ini juga didukung dengan proporsi yang tepat, seperti melalui ukuran monumen dan levelnya yang tepat, sehingga menciptakan kenyamanan visual. Sedangkan, jika dilihat secara lebih luas, keberadaan taman masih sangat harmonis dengan citra kolonial di lingkungan sekitarnya.
 

Baca juga: Pentingnya Menggunakan Jasa Arsitek Lanskap untuk Mendesain Taman Impian
 

Taman sebagai Identitas Kota
Desain Taman Ende, karya Andramatin, via arsitag.com

Desain Taman Ende, karya Andramatin,via arsitag.com
 

Sebagai kawasan bersejarah (historical site), Taman Renungan Bung Karno ini bisa dikatakan sebagai identitas kota. Oleh karena itu, perancangan yang dilakukan dengan penempatan patung Bung Karno dan elemen penunjang lainnya merupakan suatu upaya tepat untuk memperkuat identitasnya. Serta, menambah citra kota sebagai destinasi wisata sejarah.

Di kota ini kutemukan lima butir mutiara. Di bawah pohon sukun ini pula kerenungkan nilai-nilai luhur Pancasila.” Begitulah kutipan tulisan Soekarno dari perenungan dan interaksinya dengan masyarakat Ende hingga melahirkan Pancasila. Sebagai suatu kawasan bersejarah, sudah sepatutnya Taman Renungan Bung Karno selalu terjaga.

AUTHOR

Tarmizi

Penulis adalah lulusan Arsitektur Lanskap yang juga menggemari dunia penulisan sejak bangku kuliah. Kegemarannya ini membuat penulis aktif sebagai freelancer untuk menulis konten di berbagai website. Ilmu seni, arsitektur, dan tanaman yang didapat selama mengenyam pendidikan juga menjadi modal untuk tulisan-tulisannya.